Pura Besakih, Pura Terbesar yang Ada di Pulau Bali

Pura yang satu ini adalah pura terbesar yang ada di Pulau Bali. Sebagai wisatawan apalagi semeton Bali, kurang lengkap rasanya kalau diri ini nggak pernah mengunjungi Pura Besakih. Yuk kita cari tahu tradisi yang tak boleh dilanggar hingga kegiatan kegamaan yang dilakukan di pura terbesar yang satu ini.

Kalau datang langsung akan terlihat jelas gunung Agung-nya |Source: https://www.worldhindunews.com/

Pura Terbesar yang Ada di Pulau Bali dan Tradisi yang Tak Boleh Dilanggar

Pura terbesar ini terletak di Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali, lebih tepatnya di Jalan Gunung Mas, Desa Besakih. Ngomong-ngomong tentang Desa Besakih, desa ini punya tradisi yang tak boleh dilanggar lho!

Jadi di desa ini pantang membakar mayat warganya yang meninggal atau biasa disebut Ngaben. Hal ini dilakukan mengingat Pura Besakih adalah pura terbesar yang ada di Bali. “Jadi warga yang meninggal dunia akan dikubur gitu?” Yup, exactly!

Ini kalau lagi sepi |Source: https://destinasio.com
Loading...

Soalnya kalau ngaben, nanti asapnya ‘kan bisa naik. Terus Pura Besakih adalah pura yang suci, jadi ngaben dianggap prosesi pemakanan yang tidak pantas dilakukan di desa tersebut. Cuma seiring bertambahnya waktu, Bendesa Adat Besakih Jro Mangku Widiartha menjelaskan kalau seandainya warganya meninggal di luar desa tersebut (seperti rumah sakit dan lainnya) terus keluarganya mau kremasi, akan sah-sah saja. Hanya saja desa adat tidak akan mencarikan hari baik serta permakluman dari bendesa. Sama seperti tradisi di Desa Pekraman Kedungu yang tidak boleh ngaben di setra karena dekat dengan Pura Kahyangan Tiga. Alhasil ngabennya dilakukan di Pantai Kedungu.

Kegiatan Keagamaan yang Dilakukan di Pura Besakih

Kalau ramai ya begini |Source: https://kabarnusa.com/

Sekarang kita masuk ke pembahasan kegiatan keagamaan yang dilakukan di pura terbesar ini. Dimulai dari yang paling sederhana: bersembahyang, piodalan pada Purnama Kapat, Eka Dasa Rudra merupakan upacara yang memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa di seluruh arah (totalnya ada sebelas yakni 8 penjuru, titik tengah, atas serta bawah), Panca Wali Krama merupakan upacara Bhuta Yadnya yang diadakan setiap 10 tahun sekali dimana tahun caka berakhir di angka 0 yang jatuh pada Buda Kliwon Wuku Matal, Ngusabha Ngeed atau Ngusaba Buluh merupakan hari suci yang jatuh pada Purnama Kewolu yang bertujuan memohon kemakmuran kepada Dewi Sri yang dilambangkan sebagai Pohon Buluh dan Aon atau abu kayu bakar dan lainnya.

Baca juga:  Galungan Saat yang Tepat Main ke Bali

“Mz, gimana caranya supaya dapat gelang Sangadatu disana?” Oh itu. Tenang! Kamu dijamin langsung paham cara mendapatkannya dengan baca informasi yang ada di bawah ini.

Comments

comments