Peristiwa “Gejer Bali”, Gempa Bumi yang Hampir Hancurkan Bali di Tahun 1917

229
views
gejer bali

Kalau kamu panik banget saat gempa kemarin yang melanda Bali dengan kekuatan 7 SR, itu sebenarnya belum seberapa sih dibandingkan sebuah peristiwa hebat yang hempir hancurkan Pulau Bali. Pernah tidak mendengarkan cerita dari nenek atau kakek kamu soal peristiwa “Gejer” Bali? Kalau belum tahu, nih Mz kasih kisahnya yang dikutip dari Bale Bengong.

20 Januari 1917 gempa bumi kuat mengguncang Bali. Bali bagian utara dan selatan merasakan kekuatan gempanya. Selain di Bali, pulau-pulau yang bersebelahan dengan Bali pun merasakan kekuatan gempanya, seperti kawasan NTB, Bondowoso, Jember, dan Jawa Timur.

Awalnya gempa ini hanya dialami di daerah Denpasar pada 7 Januari 1917, kemudian setelah itu, terjadi gempa susulan yang secara terus menerus, hingga membuat berbagai bencana, seperti tanah longsor yang menyebabkan banyak Pura yang roboh, hingga rumah warga rata dengan tanah.

Dahsyat banget kan? Makanya peristiwa mengerikan itu dikenal dengan nama Gejer Bali 1917. Kata Gejer ini merupakan sebuah bahasa Bali yang berarti sebuah getaran bumi. Tidak hanya di tahun 1917, sebelumnya pada 22 November 1816 juga terjadi Gejer yang menelan nyawa sebanyak 10.252 di Buleleng. Apakah peristiwa ini akan terulang lagi di tahun 2018? Simak dulu cerita dibawah ini.

Baca juga:  Teriak "Hidup, Hidup!" Saat Terjadi Gempa Lombok. Apa Maksudnya?

Gejer Bali dan Si Bedawang Nala

gejer bali
Logis juga ternyata | Sumber gambar: instagram @bali_kreatif

Kurang komplit rasanya jika tidak mengaitkan bencana gempa di Bali dengan berbagai kisah mitologinya. Nah, katanya sih saat gempa terjadi penyebabnya adalah seekor kura-kura raksasa benama Benawang Nala yang bergerak. Nah, Bedawang Nala ini diikat oleh ekor naga yang bernama Naga Anantabhoda dan Naga Basuki.

Jika Bedawang Nala ikut bergerak, Naga Anantabhoda dan Naga Basuki juga ikut bergerak. Maka terjadilah sebuah gempa bumi. Jika Bedawang Nala ini gerakannya lebih hebat, maka akan juga menyebabkan terjadinya Tsunami.

Berdasarkan Bali Saja Bedawang Nala ini merupakan simbol dari api yang ada di dasar bumi yang kamu kenal dengan nama magma.

Kemudian Naga Anantabhoga disimbolkan sebagai tanah yang memberikan kehidupan bagi makhluk di atasnya dan Naga Basuki merupakan simbol dari air yang berarti sebagai sebuah sumber kehidupan.

Nah, jika dibahas secara logis, masuk akal juga sih, di mana gempa bumi terjadi akibat tumbukan antar lempengan bumi dan patahan aktif aktivitas gunung api.

Baca juga:  Patih Kebo Iwa yang Bikin Gajah Mada Ogah Adu Ilmu

Simbol Bedawang Nala, Naga Anantabhoga, dan Basuki simbol keseimbangan alam

gejer bali
Tidak bisa dipisahkan | Sumber gambar: instagram @igabam_art

Saat lempengan bumi bertumbukan, tanah pun ikut berguncang dan jika guncangan tanahnya di atas 6 SR, air laut pun juga bisa naik, sehingga menyebabkan terjadinya sebuah Tsunami. Cukup logis bukan?

Kalau berkaca dari peristiwa kemarin, kekuatan gempa yang mencapai 7 SR sudah pasti akan berpotensi terjadinya sebuah bencana Tsunami. Lantas apa yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali terkait hal tersebut?

Umat Hindu di Bali punya kepercayaannya tersendiri, di mana caranya dengan berbagai ritual-ritual sakral yang bertujuan untuk menyeimbangkan alam semesta.

Makanya saat kamu mengunjungi Padmasana (tempat sembahyang) di Bali pasti ada aja bentuk dasarnya dibuat berbentuk Bedawang Nala yang seluruh badannya diikat oleh Naga Anatabhoga dan Naga Basuki. Ini merupakan sebual simbolisasi dari keseimbangan alam.

Jika alam tidak seimbang, maka alam sendiri yang akan berusaha menyeimbangkannya

Umat Hindu menganggap, kalau alam semesta ini sebagai sebuah makhluk hidup yang harus dijaga dan diperlakukan dengan baik. Makanya ada sebuah tradisi Nyepi yang berguna untuk membiarkan alam semesta untuk beristirahat sehari saja.

Comments

comments