Begini Pemahaman Upacara Ngaben yang Bikin Keliru Kebanyakan Orang

pemahaman ngaben

Ngaben memang merupakan salah satu momen haru saat kamu menghantarkan arwah salah satu keluarga atau kerabat kamu ke dunia akhirat. Upacara Ngaben identik dengan sarana banten yang begitu banyak dan prosesinya yang sangat lama. Salah satu prosesinya yang paling membuat decak kagum adalah saat mayat diarak menuju kuburan dengan menggunakan Wadah atau Bade atau bisa juga Lembu.

Ketiga sarana tersebut yang digunakan untuk membawa mayat ke kuburan sebelum nantinya di bakar. Menariknya, Wadah, Bade, dan Lembu ini juga ada aturan penggunaannya lho. Anak Bali sudah pasti tahu kalau yang ini. Wadah digunakan untuk kalangan orang biasa, sedangkan Bade dan Lembu digunakan oleh kalangan berkasta.

Lalu apakah itu diwajibkan bagi kalangan yang berkasta untuk menggunakan Lembu atau Bade jika hanya memiliki dana yang minim? Kalau secara adat dan gengsi sih wajib, tetapi jika pihak keluarga yang mengerti, pakai Wadah saja juga tidak apa-apa, karena semuanya itu memiliki fungsi yang sama, yaitu mengantarkan mayat sampai ke peristirahatan terakhirnya.

Upacara Ngaben secara besar-besaran dianggap sebuah kekeliruan

Upacara Ngaben
Rame beeet! | Source: kumparan.com

Kenapa tidak semasa hidupnya kamu kasih baju bagus dan uang yang banyak? Mending uangnya kamu kasih ke orang yang membuthkan, karena ini memang benar-benar sesuatu yang keliru. Kasihan juga Bank Indonesia banyak kelihalangan uang dari peredaran akibat dibakar saat ritual Ngaben.

Baca juga:  Kasus Pro Kontra Pelari Maraton Wanita Desa Mlangi Yogyakarta

Meskipun begitu, kalau dilihat dari sisi yang berbeda Lembu dan Bade ini merupakan salah satu bentuk kesenian budaya Bali yang pastinya menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang melihatnya. Tinggi dan megah jika kamu menyaksikan acara kematian atau Palebon salah satu keturunan raja di Bali.

Loading...

Makna simbol pada Bade yang ada hubungannya sama atma

pemahaman ngaben
Tidak sekedar seni | Sumber gambar: telegraph

Bisa lihat saat Pelebon di Puri Ubud yang menggunakan Bade tinggi banget dan ribuan orang rela berdesak-desakan untuk mengabadikan momen tersebut. Bade yang besar dan menjulang tinggi ini juga terdapat filosofi ditiap bagian-bagiannya.

Pertama ada Bedawang Nala yang artinya tanah pertiwi, di mana filosofinya dalam kehidupan seperti konsep rwabhineda. Jadi semasa hidup manusia harus bisa memilah-milah mana perbuatan baik dan perbuatan buruk.

Selanjutnya ada Naga yang diartikan sebagai simbol sifat rakus pada manusia. Diharapkan sifat rakusnya bisa melebur dan tidak dibawa ke dunia akhirat

Baca juga:  Sejarah Tawan Karang, Hukum Unik Di Bali Milik Sang Raja

Kemudian ada Bhoma pada Bade yang melambangkan sifat tidak pernah puas pada manusia yang harus dileburkan dan terakhir ada Garuda serta Angsa yang melambangkan sesuatu yang istimewa, di mana Garuda ini nantinya akan menerbangkan sifat-sifat duniawi yang masih mengikat sang atma, sedangkan Angsa yang berarti kembalinya sang atma pada yang kuasa.

Jadi, itu semua hanya sebuah simbolisasi aja dan ini bisa dijadikan sebagai pembelajaran, bahwa nantinya saat kamu mati, tidak akan ada yang akan kamu bawa dari dunia. Entah itu uang, mobil hingga perhiasan, semuanya hanya bersifat sementara. Tahu kenapa? Karena semuanya akan sama di mata Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Comments

comments

Yoga Sumantara
Berbagi dimulai dari keikhlasan, jangan jadi orang lain tapi jadi lebih baik dari orang lain, penggemar mie-miean, Love SERINGAI dan sejenisnya lagi sibuk belajar out of the box