Ngaben Unik yang Ada di Bali

“Kira-kira ada nggak ya ngaben-ngaben unik gitu? Yang anti mainstream gitulah.” Ada! Beneran! Bahkan sudah dilakukan sangat lama dan ini terjadi di beberapa daerah yang ada di Bali.

ngaben unik
Saat ngaben massal di Gianyar |Source: www.antarafoto.com

Mesbes Bangke alias Mencabik-cabik Mayat

Mesbes bangke (mencabik-cabik mayat) ini dilakuin di Banjar Buruan, Tampaksiring, Gianyar. Bayangin saja saat mau membawa mayatnya ke setra (kuburan) direbutin dan orang-orang berusaha untuk cabik-cabik mayatnya. Seram sih.

ngaben unik
Agak seram ya |Source: https://www.99.co

Nggak semua mayat melewati prosesi ini. Biasanya untuk ngaben yang personal saja alias bukan massal, dan persetujuan keluarga juga harus dipastikan dulu. Untuk orang-orang yang mau cabik-cabik mayatnya harus dari Banjar Buruan. Kalau ketahuan orang luar ikutan? Bakalan dihajar massa!

Saat mayatnya dicabik-cabik, nggak ada yang namanya acara mayat jatuh. Yang ngangkat mayatnya harus kuat-kuat. Kalaupun mayatnya jatuh, harus mengadakan pecaruan (upacara penebusan) dan warga-warganya akan dikenai sanksi. Sejauh ini Mz nggak pernah dengar ada beritanya.

Punya Setra Tapi Pantang Ngaben di Setra

“Lah, punya setra tapi ngabennya nggak di setra gitu?” Iya, diadakannya di Pantai Kedungu. Desa adat yang masih melakukan tradisi ini adalah Desa Pakraman Kedungu, Kediri, Tabanan.

Jadi kenapa diadakannya di pantai (sebutan lain: Segara) bukan di setra gara-gara letak setra-nya itu deket Pura Kahyangan Tiga dan dianggap suci. Masa mau bakar mayat dekat pura?
‘Kan agak gimana gitu rasanya.

ngaben unik
Hampir sama dengan ngaben di Nusa Penida |Source: https://balebengong.id

Kalau mayatnya langsung diaben, ya langsung dibakar di pantai. Untuk yang sudah dikubur, nggak ada yang namanya istilah Ngangkid (mayat yang sudah dikubur dan digali kembali kemudian diaben). Mereka percaya kalau melakukan hal itu akan mendatangkan penyakit dan menyerang desa pakraman. Jadi digunakan daksina sebagai simbolnya. Ngaben massal-nya biasanya dilakukan setiap 5 tahun sekali.

Baca juga:  Jangan Ngaku Orang Bali Kalo Belum Paham Luan Teben
Loading...

Pakei Bade Tertinggi Terus Diarak ke Tengah Laut

Kalau yang ini diadakan di Nusa Penida. Tepatnya di Desa Batumulapan, Nusa Penida, Klungkung. Jadi bade-nya (wadah mayat) diarak dan dibawa ke Pantai Batununggul, biasanya ada iring-iringan gamelan baleganjur juga. Tinggi bade-nya juga nggak main-main, sampek 10 meter! Namanya juga di pantai, kadang airnya pasang surut dan upacara ini bisa nemakan waktu hingga 3 jam.

Karena warna air dan pemandangannya yang bagus, para photographer akan datang dan berlomba-lomba untuk foto momen luar biasa tersebut. Karena unik dan antusiasme warganya, lama-lama semakin menarik pendatang baru untuk melihatnya.

ngaben unik
Pantai Kedungu juga begini, cuma bade-nya lebih tinggi yang di Nusa Penida |Source: https://phdi.or.id/

Ngaben Unik Sambil Nyebrangin Sungai

ngaben unik
Harus rela basah-basahan |Source: http://www.balipost.com

Iya! Ngabennya memang harus nyebrangin sungai dulu. Tradisi ini dilakukan di Banjar Adat Tegal Ambengan, Desa Sudimara, Tabanan. Butuh perjuangan keras untuk nyebrang sungai yang lebarnya bisa sampai 5 meter lebih. Harus rela basah kuyup kalau begini.

Baca juga:  Pencegahan Virus Corona? Pas Banget, Tradisi Ini Bisa Dilakukan Lho!

“Kok nyebrang sungai?” Soalnya setra-nya ada di seberang sungai, bahkan setranya diapit dua sungai sekaligus. Tradisi ini juga sudah dilakukan secara turun temurun. Kalau air sungai-nya lagi pasang, orang suci setempat akan matur piuning (upacara memohon kelancaran dan keselamatan) dan dipercaya airnya akan surut dengan sendirinya.

Saat musim hujan ‘kan airnya akan pasang, warga akan menggunakan rakit buatan untuk bantu menyebrangkan bade-nya bahkan bisa pakai ban juga.

Sekarang sudah tahu ‘kan ada ngaben-ngaben unik di Bali. Kalau ditanya, “ngaben upacaranya cuma gitu aja ya?” Harusnya sudah bisa jawab nih.

Comments

comments