Menolak Lupa Sejarah Kerajaan Klungkung yang Melegenda

Kerajaan Klungkung

Sesuai judulnya, Mz akan cerita sedikit ke kalian tentang Kerajaan Klungkung yang sangat melegenda. Kerajaan Klungkung ini ada kaitannya sama Puri Pejenengan Puri Agung Klungkung tempat Bale Kulkul yang bikin heboh itu dan Perang Puputan.

Melewati Sejarah yang Sangat Panjang

“Sangat panjang?” Iya! Mz jelasin secara singkat saja ya. Ini berawal dari Periode Warmadewa di Bedulu (Péjéng, Gianyar), dimana kerajaan Bedulu ini diperintah oleh raja-raja keturunan Dinasti Warmadewa. Ini juga disebut masa kerajaan Bali Dwipa atau masa kerajaan awal, dari sini juga nih adanya Prasasti Blanjong (ditemukan di dekat jalur selatan Pantai Sanur) yang dibuat Sri Kesari Warmadewa pada awal abad ke-10 (914 M) dan menggunakan dua bahasa yaitu Bali Kuna (Kawi) dan bahasa Sansekerta.

kerajaan klungkung blanjong
Kalau dilihat dari dekat ya begini |Source: baliexpress.jawapos.com

Setelah itu, dilanjutkan dengan Periode Majapahit. Kerajaan Hindu-Buddha yang terakhir menguasai Nusantara dan dianggap kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Mumpung bahas Majapahit, ada nih kaitannya dengan pura di Bali yaitu Pura Maospahit yang memperagakan arsitektur bata merah khas Majapahit dan satu-satunya pura yang menggunakan konsep Panca Mandala. Nah, pada Mandala kelima meliputi candi bata merah bernama Candi Raras Maospahit dan Candi Raras Majapahit. Usut punya usut, Candi Raras Maospahit didirikan oleh Sri Kbo Iwa (dari Kerajaan Bedulu) pada 1200 tahun Saka (tahun 1278 kalender Gregorian). Jadi, ada bangunan bata merah besar dan dua patung terakota yang mengapit pintu masuk utama.

Kalau dari luar ya gini |Source: https://denpasarkota.go.id/

Sedangkan Candi Raras Majapahit didirikan oleh seorang arsitek, I Pasek. Sang arsitek yang dari Kerajaan Badung, Kota Denpasar ditugaskan untuk membangun candi lain yang akan digunakan untuk pertunjukan wayang. Jadi, I Pasek pergi ke Majapahit untuk mempelajari proporsi yang tepat untuk kuil baru. Ketika sudah menyelesaikan desain kuil barunya, sang arsitek balik ke Denpasar dan membangun kuil tersebut pada 1475 Tahun Saka (tahun 1553). Candi ini juga didirikan di samping Candi Raras Maospahit.

Setelah kedua periode tersebut, dilanjutin lagi ke Periode Gelgel. Patinya periode ini di bawah kekuasaannya Kerajaan Gelgel. Berawal dari seorang perdana menteri yang berontak pada tahun 1650 yang bernama I Gusti Agung Maruti. Nah, waktu dia berontak saat itu sedang di bawah pemerintahan Raja Dalem Dimade. Akhirnya Kerajaaan Gelgel berhasil direbut dan sang Raja Dalem Dimade melarikan diri ke Desa Guliang (wilayah kekuasaan Kerajaan Bangli).

Salah satu peninggalan Kerajaan Gelgel |Source: https://andikajogjaku.blogspot.com/

Salah satu putranya, Ida Dewa Agung Jambe berniat merebut kembali Kerajaan Gelgel yang saat itu abad ke-17 atau tahun 1686 masehi. Akhirnya Dewa Agung Jambe berhasil merebut Kerajaan Gelgel dari I Gusti Agung Maruti (sebelumnya mengklaim dirinya itu penerus sejatinya Majapahit). Dewa Agung Jambe nggak mau pusat kerajaannya di Gelgel, jadi dipindahlah ke sebelah utara Gelgel yang dinamakan Klungkung. Nah, setelahnya pusat kerajaan dibangun sekaligus digunakan sebagai istana tempat tinggal Dewa Agung Jambe di Klungkung. Istana baru ini dinamakan Semarapura atau Semarajaya yang dikenal sebagai Kerajaan Klungkung. Dengan runtuhnya Kerajaan Gelgel, maka berakhir sudah dinasti Waturenggong yang memerintah kerajaan tersebut.

kerajaan klungkung
Foto zaman dahulu |Source: www.balitoursclub.ne

Berdirinya Kerajaan Klungkung Pada Abad Ke-17

Didirikan pada tahun 1686 atau abad ke-17, kerajaan ini berdiri di bawah pemerintahan Dewa Agung Jambe. Sang raja merupakan keturunan dari Periode Gelgel dan dinasti Waturenggong, tapi gelar ‘Dalem’ itu mulai nggak digunakan lagi dan diganti sama gelar ‘Dewa Agung’. Makanya penerus Dewa Agung Jambe setelahnya menggunakan gelar ‘Dewa Agung’. Salah satu penerusnya yang seorang wanita bernama Ida I Dewa Agung Istri Kanya atau dikenal juga sebagai Dewa Agung Istri Balemas. Ia dikenal sebagai ‘Ratu Perawan Klungkung’ karena keberaniannya menentang invasi Belanda di Desa Kusamba (Kec. Dawan, Klungkung) bersama Mangkubumi Dewa Agung Ketut Agung. Dewa Agung Istri Kanya ini menyusun penyerangan balasan untuk Belanda di Kusanegara dan ia juga berhasil membuat pimpinan ekspedisi Belanda, Mayor Jenderal A.V. Michiels gugur. Nggak hanya dijuluki ‘Ratu Perawan Klungkung’, ia juga dijuluki ‘Wanita Besi’ karena berhasil membunuh seorang jenderal Belanda. Nggak hanya itu, ia dijuluki ‘Rakawi’ atau Raja Kawi karena kecintaannya sama dunia sastra. Goks!

kerajaan klungkung kanya
Ini nih jenderal Belanda yang berhasil dibunuh sama ‘Ratu Perawan Klungkung’ |Source: www.nederlandsekrijgsmacht.nl

Nama ‘Kanya’ sendiri berarti melajang atau tidak kawin. Iya! Ia memutuskan untuk melajang seumur hidup dan pemerintahannya dilanjutkan oleh Mangkubumi Dewa Agung Ketut Agung yang juga merupakan keturunan Kerajaan Klungkung. Setelah gonta ganti Raja, tepat saat di bawah pemerintahan Dewa Agung Jambe II (kira-kira raja ke-13) mengalami penurunan dan kerajaan menjadi terbelah. Sehingga, mulailah terbentuk kerajaan-kerajaan kecil seperti Kerajaan Gianyar, Bangli, Badung, Karangasem, Denpasar, Buleleng, Jembrana, Tabanan dan pastinya Kerajaan Klungkung juga. Makanya masa Kerajaan Klungkung ini juga disebut dengan Periode Sembilan Kerajaan.

Baca juga:  Kenapa Sih Harus Jalan-jalan ke Nusa Lembongan?
kerajaan klungkung sembilan kerajaan
9 kerajaan, semua ditulis di Peta Bali tahun 1900-an |Source: www.wikiwand.com

Perang Puputan yang Menjadi Penutup Cerita

Puputan atau Puput ‘kan artinya ‘selesai’, jadi perang puputan adalah perang sampai titik darah penghabisan atau bisa juga disebut perang bunuh diri. Kenapa? Ya, ini merupakan bentuk ksatria Kerajaan Klungkung untuk mempertahankan tanah mereka dari Belanda. Dimulai dari patroli keamanan Belanda di wilayah Kerajaan Klungkung sejak 13 hingga 16 April 1908, rakyat dan pembesar kerajaan nggak terima karena dianggap melanggar kedaulatan Kerajaan Klungkung. Sampai akhirnya terjadi penyerangan terhadap pasukan kolonial Belanda yang lagi patroli, penyerangan secara mendadak ini menewaskan 10 orang pasukan Belanda bahkan pemimpin pasukan seorang letnan Belanda juga ikutan dibunuh.

Ilustrasi perang Puputan Klungkung |Source: http://www.anishidayah.com/

Si kolonial Belanda kesel lah, kok pasukannya tiba-tiba dibunuh. Karena kejadian tersebut, mereka menuduh Kerajaan Klungkung melakukan pemberontakan dan memutuskan mengeluarkan ultimatum agar Raja Dewa Agung Jambe II untuk menyerah sebelum tanggal 22 April 1908. Reaksi raja sama rakyat? Nggak takut sama sekali! Nyali mereka nggak menciut gitu saja walaupun sudah diancam oleh Belanda. Malahan mereka berkeinginan besar untuk semakin mempertahankan kehormatan dan wilayah Kerajaan Klungkung.

Ketika tahu hal ini Belanda dibuat makin kesal lagi. Akhirnya pada tanggal 20 April 1908, mereka mengirim kembali pasukan dari Batavia (saat ini Jakarta) untuk menyerang Kerajaan Klungkung. Pada tanggal 21 April 1908, pasukan kolonial Belanda mulai menyerang Kerajaan Klungkung, terus tanggal 27 April 1908 pemerintah Belanda nambahin lagi pasukannya dari Batavia. Raja beserta rakyatnya melawan dengan persenjataan yang masih sangat tradisional seperti tombak mapun bambu runcing, sedangkan yang mereka lawan itu senjata meriam pasukan belanda. Karena persenjataan yang tidak imbang ini membuat serdadu Belanda bisa masuk menuju istana Semarapura Klungkung tanpa hambatan yang berarti. Dalam serangan tersebut Dewa Agung Gede Semarabawa, Cokorda Gelgel, Dewa Agung Istri Muter dan sang putra mahkota Gugur.

kerajaan klungkung raja
Raja Dewa Agung Jambe II dan keluarganya |Source: id.wikipedia.org

Mendengar kabar ini, Dewa Agung Jambe II masih tetap nggak takut. Ia sudah membulatkan tekad untuk melakukan perang puputan sampai titik darah penghabisan. Bersama 3.000 orang pasukan Kerajaan Klungkung, Dewa Agung Jambe II kembali melakukan perlawanan. Akhirnya pada tanggal 28 April 1908 dengan persenjataan yang bener-bener nggak imbang, Raja Dewa Agung Jambe II gugur di medan perang. Setelah itu, Kerajaan Klungkung secara resmi jatuh di tangan Belanda. Walaupun gugur di medan perang, sikap ksatria mereka ini nggak bisa dianggap remeh. Mereka nggak gentar sama sekali walaupun tahu secara persenjataan nggak imbang, bersyukur sekali kita nggak merasakan hal itu sekarang.

Baca juga:  Menjelang Pilkada 2020, Intip Sistem Pemerintahan Bali Jaman Dulu, Yuk!

Katanya peninggalan dari Kerajaan Klungkung ini disimpan di museum Belanda yaitu Museum Leiden dengan koleksi terbesarnya, Amsterdam Tropenmuseum dan Rijks Museum. Benda-benda pusaka tersebut meliputi beberapa keris, tombak, tempat tirta, hiasan-hiasan dinding, aksesoris rambut, kain dan beberapa kursi yang sama dengan yang ada di Kertha Gosa. Katanya ada 320 benda yang tersimpan di tiga musem tersebut, Bupati Klungkung juga sudah berupaya untuk mengembalikan semua benda bersejarah itu ke Klungkung. Oh ya, sampai saat ini Klungkung masih punya raja yang bernama Dewa Agung Cokorda Gede Agung Semaraputra dengan gelar Ida Dalem Semaraputra yang dilantik tahun 2010 lalu.

kerajaan klungkung puputan
Btw ini Perang Puputan Badung tahun 1906 |Source: merahputih.com

Nah, sudah tahu ‘kan Kulkul Lanang Istri yang ada di Pejenengan Puri Agung Klungkung? Sebelumnya kulkul ini berada di Puri Semarajaya, areal Kertha Gosa saat ini. Sekitar tahun 1908, terjadi Perang Puputan. Bangunan puri rusak berat, banyak pejuang yang gugur, dan ada juga yang meninggalkan puri. Akibat ditinggalkan puri ini pun kosong serta tidak terawat. Ada rakyat yang saat itu berinisiatif untuk memindahkan kulkul tersebut ke Pura Dalem Kresek di perbatasan Desa Besang dan Bendul, Klungkung. Kemudian, sekitar tahun 1964 dipindahkan ke Pejenengan Puri Agung Klungkung. Oh ya satu lagi, untuk nama Ibukota Klungkung pun diberi nama Semarapura sama seperti nama istana Kerajaan Klungkung sebelumnya.

Gimana? Apa sudah mulai pusing dan mata berkunang-kunang? Maklum, namanya juga sejarah turun temurun jadinya saling berkaitan sama yang ini, kalau nggak ya sama yang itu dan begitu seterusnya. Walaupun gitu, kita nggak boleh lupa sama jasa para pahlawan apalagi orang-orang kita (Raja dan Rakyat Bali) yang sudah berjuang mempertahankan tanah Bali. Salam Merdeka!

Comments

comments