Menolak Lupa Sejarah Kerajaan Klungkung Yang Melegenda

kerajaan klungkung jaman dulu
Bali jaman dulu nih… |Source: www.flickr.com

Sesuai judulnya, Mz bakal sedikit cerita ke kalian tentang Kerajaan Klungkung yang melegenda banget. Kerajaan Klungkung ini ada kaitannya sama Puri Pejenengan Puri Agung Klungkung tempat Bale Kulkul yang bikin heboh itu dan Perang Puputan. Buat yang tau sejarahnya pasti nggak asing lagi dong, nah buat yang belum tau? Yuk langsung aja bahas bareng, cekidot!

Melewati Sejarah Yang Sangat Panjang

Sangat panjang? Iyak! Panjang banget! Mz jelasin secara singkat aja ya. Ini berawal dari Periode Warmadewa di Bedulu (Péjéng, Gianyar), dimana kerajaan Bedulu ini diperintah oleh raja-raja keturunan Dinasti Warmadewa. Ini juga disebut masa kerajaan Bali Dwipa atau masa kerajaan awal, dari sini juga nih adanya Prasasti Blanjong (ditemukan di dekat jalur selatan Pantai Sanur) yang dibuat Sri Kesari Warmadewa pada awal abad ke-10 (914 M) dan menggunakan dua bahasa yaitu Bali Kuna (Kawi) dan bahasa Sansekerta.

kerajaan klungkung blanjong
Kalau dilihat dari dekat ya begini… |Source: baliexpress.jawapos.com

Abis itu, dilanjutkan dengan Periode Majapahit, pasti tau dong?! Kerajaan Hindu-Buddha yang terakhir menguasai Nusantara dan dianggap kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Mumpung bahas Majapahit, ada nih kaitannya sama pura di Bali yaitu Pura Maospahit yang memperagakan arsitektur bata merah khas Majapahit dan satu-satunya pura yang menggunakan konsep Panca Mandala. Nah, pada Mandala kelima meliputi candi bata merah bernama Candi Raras Maospahit dan Candi Raras Majapahit. Usut punya usut nih, Candi Raras Maospahit didirikan oleh Sri Kbo Iwa (dari Kerajaan Bedulu) pada 1200 tahun Saka (tahun 1278 kalender Gregorian). Jadi, ada bangunan bata merah besar dan dua patung terakota yang mengapit pintu masuk utama.

kerajaan klungkung pura maospahit
Begini nih penampakannya kalau dari luar |Source: www.kintamani.id

Sedangkan Candi Raras Majapahit didirikan oleh seorang arsitek I Pasek. Beliau yang dari Kerajaan Badung, Kota Denpasar disuruh membangun candi lain yang bakal digunain untuk pertunjukan wayang. Jadi, beliau pergi ke Majapahit buat mempelajari proporsi yang tepat untuk kuil baru. Waktu udah nyelesain desain kuil barunya nih, beliau balik ke Denpasar bangun kuil tersebut pada 1475 Tahun Saka (tahun 1553). Candi ini juga didirikan di samping Candi Raras Maospahit.

Setelah kedua periode tersebut, dilanjutin lagi ke Periode Gelgel. Udah pastinya periode ini dibawah kekuasaannya Kerajaan Gelgel. Berawal dari seorang perdana menteri yang berontak pada tahun 1650 yang bernama I Gusti Agung Maruti. Nah, waktu dia berontak nih pas itu lagi di bawah pemerintahan Raja Dalem Dimade. Akhirnya Kerajaaan Gelgel berhasil direbut dan sang Raja Dalem Dimade melarikan diri ke Desa Guliang (wilayah kekuasaan Kerajaan Bangli).

kerajaan klungkung gelgel
Pura Dasar Bhuana (peninggalan Kerajaan Gelgel) tahun 1925 |Source: www.facebook.com/SejarahBali

Salah satu putranya, Ida Dewa Agung Jambe berniat ngerebut lagi Kerajaan Gelgel, waktu itu abad ke-17 tahun 1686 masehi, dan jeng jeng jeng… Beliau berhasil ngerebut Kerajaan Gelgel dari I Gusti Agung Maruti, kerajaan ini juga sebelumnya mengklaim dirinya itu penerus sejatinya Majapahit. Dewa Agung Jambe nggak mau pusat kerajaannya di Gelgel, jadi dipindahlah ke sebelah utara Gelgel yang dinamakan Klungkung. Nah, udah gitu pusat kerajaan dibangun sekaligus sebagai istana tempat tinggal Dewa Agung Jambe di Klungkung. Istana baru ini dinamakan Semarapura atau Semarajaya yang dikenal sebagai Kerajaan Klungkung. Dengan runtuhnya Kerajaan Gelgel, maka berakhir sudah dinasti Waturenggong yang memerintah kerajaan tersebut.

kerajaan klungkung
Hati-hati buat bapak-bapak yang naik diatas situ! |Source: www.balitoursclub.net

Berdirinya Kerajaan Klungkung Pada Abad Ke-17

Didirikan pada tahun 1686 atau abad ke-17 dan dibawah pemerintahan Dewa Agung Jambe. Beliau juga merupakan keturunan dari Periode Gelgel dan dinasti Waturenggong, tapi gelar ‘Dalem’ itu mulai nggak digunakan lagi dan diganti sama gelar ‘Dewa Agung’. Makanya penerus Dewa Agung Jambe terus makek gelar ‘Dewa Agung’, ada nih salah satu penerusnya yang seorang wanita namanya Ida I Dewa Agung Istri Kanya yang dikenal juga sebagai Dewa Agung Istri Balemas. Si doi nih dikenal sebagai ‘Ratu Perawan Klungkung’ karena keberaniannya menentang invasi Belanda di Desa Kusamba (Kec. Dawan, Klungkung), bareng Mangkubumi Dewa Agung Ketut Agung. Dewa Agung Istri Kanya ini menyusun penyerangan balasan buat Belanda di Kusanegara dan beliau juga berhasil membuat pimpinan ekspedisi Belanda, Mayor Jenderal A.V. Michiels gugur. Nggak cuman dijuluki ‘Ratu Perawan Klungkung’, beliau juga dijuluki ‘Wanita Besi’ karena bisa ngebunuh seorang jenderal Belanda. Nggak hanya itu, beliau dijuluki ‘Rakawi’ atau Raja Kawi karena kecintaannya sama dunia sastra. Wuuhh mantap!

kerajaan klungkung kanya
Ini nih jenderal Belanda yang berhasil dibunuh sama ‘Ratu Perawan Klungkung’ |Source: www.nederlandsekrijgsmacht.nl

Nama ‘Kanya’ sendiri berarti melajang atau tidak kawin, yup! Beliau memutuskan untuk melajang dan pemerintahannya dilanjutkan oleh Mangkubumi Dewa Agung Ketut Agung yang juga merupakan keturunan Kerajaan Klungkung. Setelah gonta ganti Raja, tepat saat dibawah pemerintahan Dewa Agung Jambe II (kira-kira raja ke-13) mengalami penurunan dan kerajaan menjadi terbelah. Sehingga, mulailah terbentuk kerajaan-kerajaan kecil kayak Kerajaan Gianyar, Bangli, Badung, Karangasem, Denpasar, Buleleng, Jembrana, Tabanan dan pastinya Kerajaan Klungkung juga. Makanya masa Kerajaan Klungkung ini juga disebut dengan Periode Sembilan Kerajaan.

kerajaan klungkung sembilan kerajaan
Ini nih 9 kerajaan tadi, semua ditulis di Peta Bali tahun 1900-an|Source: www.wikiwand.com

Perang Puputan Yang Menjadi Penutup Cerita

Puputan atau Puput kan artinya ‘selesai’ tuh. Jadi, perang puputan adalah perang sampai titik darah penghabisan atau bisa juga disebut perang bunuh diri gengs. Kok gitu? Ya, ini merupakan bentuk ksatria Kerajaan Klungkung untuk mempertahankan tanah mereka dari Belanda. Dimulai dari patroli keamanan Belanda di wilayah Kerajaan Klungkung sejak 13-16 April 1908, rakyat dan pembesar kerajaan nggak terima nih, karena dianggap melanggar kedaulatan Kerajaan Klungkung, sampai akhirnya terjadi penyerangan terhadap pasukan kolonial Belanda yang lagi patroli tersebut, penyerangan secara mendadak ini menewaskan 10 orang pasukan Belanda, bahkan pemimpin pasukan seorang letnan Belanda juga ikutan dibunuh.

kerajaan klungkung puputan klungkung
Ilustrasi Perang Puputan Klungkung tahun 1908 |Source: merahputih.com

Si kolonial Belanda kesel dong, kok pasukannya tiba-tiba dibunuh gitu aja?! Karena kejadian tersebut, mereka menuduh Kerajaan Klungkung melakukan pemberontakan dan memutuskan mengeluarkan ultimatum biar Raja Dewa Agung Jambe II buat menyerah sebelum tanggal 22 April 1908. Reaksi raja sama rakyat? Nggak takut sama sekali! Nyali mereka nggak ciut gitu aja walaupun udah diancam sama Belanda, malahan mereka berkeinginan besar buat mempertahankan kehormatan dan wilayah Kerajaan Klungkung.

kerajaan klungkung raja
Raja Dewa Agung Jambe II dan keluarganya|Source: id.wikipedia.org

Belanda pas tahu makin lebih kesel, akhirnya pada tanggal 20 April 1908, mereka kirim pasukan lagi dari Batavia (saat ini Jakarta) untuk nyerang Kerajaan Klungkung. Pas tanggal 21 April 1908, udah mulai nih pasukan kolonial Belanda nyerang Kerajaan Klungkung, terus tanggal 27 April 1908 pemerintah Belanda nambahin lagi pasukannya dari Batavia. Raja beserta rakyatnya melawan dengan persenjataan yang masih tradisional banget kayak tombak mapun bambu runcing, sedangkan yang mereka lawan itu senjata meriam pasukan belanda. Karena persenjataan yang tidak imbang ini, membuat serdadu Belanda bisa masuk menuju istana Semarapura Klungkung dengan mulus, dalam serangan tersebut Dewa Agung Gde Semarabawa, Cokorda Gelgel, Dewa Agung Istri Muter dan sang putra mahkota Gugur.

kerajaan klungkung puputan
Ilustrasi aja bor! Btw ini Perang Puputan Badung tahun 1906|Source: merahputih.com

Pas tahu hal ini, Dewa Agung Jambe II masih tetep nggak takut. Dia udah bulatin tekad buat melakukan perang puputan sampai titik darah penghabisan. Bersama 3.000 orang pasukan Kerajaan Klungkung, Dewa Agung Jambe II kembali melakukan perlawanan. Akhirnya pada tanggal 28 April 1908, dengan persenjataan yang bener-bener nggak imbang Raja Dewa Agung Jambe II gugur di medan perang, setelah itu Kerajaan Klungkung secara resmi jatuh di tangan Belanda. Walaupun mereka gugur di medan perang, sikap ksatria mereka ini nggak bisa dianggap remeh. Mereka nggak gentar sama sekali walaupun tahu secara persenjataan nggak imbang, bersyukur banget kita nggak merasakan hal itu sekarang.

Katanya peninggalan dari Kerajaan Klungkung ini disimpan di museum Belanda yaitu Museum Leiden dengan koleksi terbesarnya, terus di Amsterdam Tropenmuseum, dan Rijks Museum. Benda-benda pusaka tersebut meliputi beberapa keris, tombak, tempat tirta, hiasan-hiasan dinding, hiasan buat rambut, kain dan beberapa kursi yang sama dengan di Kertha Gosa. Katanya sih ada 320 item yang tersimpan di tiga musem tersebut, Bupati Klungkung juga udah berupaya untuk mengembalikan semua benda bersejarah itu ke Klungkung. Oh ya, sampai saat ini Klungkung masih punya raja yang bernama Dewa Agung Cokorda Gede Agung Semaraputra dengan gelar Ida Dalem Semaraputra yang dilantik tahun 2010 lalu.

kerajaan klungkung kertha gosa
Kertha Gosa yang dulunya Istana Kerajaan Klungkung |Source: www.kintamani.id

Nah udah tahu kan Kulkul Lanang Istri yang ada di Pejenengan Puri Agung Klungkung, sebelumnya tuh berada di Puri Semarajaya, areal Kertha Gosa saat ini. Sekitar tahun 1908, terjadi Perang Puputan. Bangunan puri rusak berat, banyak pejuang gugur, dan ada juga yang meninggalkan puri. Sehingga, puri pun kosong.  Jadi ada nih, rakyat yang waktu itu berinisiatif buat mindahin kulkul tersebut ke Pura Dalem Kresek di perbatasan Desa Besang dan Bendul, Klungkung. Kemudian, sekitar tahun 1964 dipindahkan ke Pejenengan Puri Agung Klungkung. Satu lagi nih, untuk nama Ibukota Klungkung pun diberi nama Semarapura sama seperti nama istana Kerajaan Klungkung sebelumnya.

Okeh, sekian dulu gengs. Sampai sini paham, kan? Maklum, namanya juga secara turun temurun jadinya saling berkaitan sama yang ini, kalau nggak ya sama yang itu dan begitu seterusnya. Walaupun gitu, kita nggak boleh lupa sama jasa para pahlawan apalagi orang-orang kita (Raja dan Rakyat Bali) yang udah berjuang mempertahankan tanah Bali. Salam Merdeka!

Comments

comments