Lebih dari Sekedar Angker, Pohon Kepuh Menyimpan Banyak Misteri

427
views
pohon kepuh

Sebelumnya Mz udah bahas nih soal beberapa Pohon Angker di Bali nih. Tapi diantara pohon angker ada yang memang konon memiliki aura mistis yang amat kuat. Masyarakat bali masih mempercayai pohon ini, karena konon pohon ini udah ada dari jaman dulu banget.

Pohon tersebut bernama Pohon Kepuh yang konon dihuni oleh makhluk halus dan dipercaya kalo kamu ga mengucapkan permisi atau menyembunyikan klakson, nanti kamu dalam keadaan bahaya. Salah satu Pohon Kepuh di Bali yang tingkat keangkerannya udah terkenal, berada di kawasan Banjar Pakraman Beratan, Desa Pekraman Yeh Kuning,

Berdasarkan info Tribun Bali bagi yang melakukan perbuatan kurang baik saat melewati pohon ini, seperti berkata kasar, kencing sembarangan, hingga berbuat yang bukan-bukan kamu udah dipastikan celaka. Bagi yang udah terlanjur melakukan hal seperti itu (namanya juga manusia bro) harus menghaturkan sesajen kepada pohon ini sebagai ucapan permintaan maaf.

Baca juga:  Cuman yang Terpilih Aja Boleh Menarikan Wayang Wong

Pohon Kepuh Bali yang udah ada sejak jaman Dang Hyang Dwijendra

Angker tapi nyejukin | Sumber gambar: alampriangan

Belum pasti gimana asal usul keberadaan pohon ini, tapi katanya sih pohon ini udah ada sejak jaman Dah Hyang Dwijendra. Tapi tetap belum ada kepastian, karena mesin waktu dijaman Milenial ini belum diciptakan.

Ternyata dibalik nuansa angker dari pohon ini, ada sesuatu yang ga bisa jelaskan dengan hitungan matematika ataupun teori fisika. Pohon ini juga memberikan aura positif yang hati bikin sejuk kepada warga sekitar saat melakukan persembahyangan.

Baca juga:  Tirta Pengentas: Biar Atma Ga Jadi Bhuta Cuil yang Berbahaya

Jadi, meskipun terkesan angker, pohon ini tetap menjadi salah satu bagian hidup dari masyarakat Bali. Ini sama kayak konsep Tri Hita Karana yang menjelaskan kalo kita ga cuman peduli terhadap sesama aja, tetapi kepada semua makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. kalo sudah itu terjadi, maka hidup kamu makin sejahtera.

Comments

comments