Memilih Mati Menyambut Bencana Gunung Agung

510
views
hyang tohlangkir

Masih soal bencana Gunung Agung di Bali, berdasarkan Serunik.com ternyata masyarakat jaman dulu percaya, bahwa di Gunung Agung tersebut dipercaya sebagai perempatan agung atau sumbu Bumi yang menjadi persemayaman Bathara Mahadewa atau Hyang Tolangkir. “Sugre tabik pakulun”, Mz sedikit menjelaskan kejadian mistis pada bencana Gunung Agung sebelumnya, yakni tahun 1963.

Berdasarkan tulisan Cok Sawitri di Serunik.com dan tim ekspedisi Ring of Fire, ada beberapa kisah memilukan juga “kemanusiaan” saat Gunung Agung meletus. Waktu itu Pura di Badeg Dukuh dan Sogra hancur. Hampir seluruh bangunan ambruk diterjang awan panas. Menurut catatan Kusumadinata (1963), awan panas pagi itu telah menewaskan 109 warga Badeg Dukuh dan 102 warga Sogra.

Apakah masyarakat di sana sengaja cari mati? Ternyata lebih dari itu

Kalau orang yang berfikiran normal dan berlogika, mungkin saat bencana bakalan memilih untuk menyelamatkan diri dan menganggap, kalau masyarakat disana mau cari mati, tetapi tunggu dulu, ada maksud di balik kerelaan warga Badeg Dukuh dan Sogra untuk memilih jalan ini. Bukan putus asa, melainkan mereka seperti menyambut bencana itu. Saat ditemukan, para korban dalam posisi duduk menabuh gamelan. Kepala Dukuh duduk dengan genta masih di tangan.

Baca juga:  Heboh! Segitu Besarnya Dampak Erupsi Gunung Agung

Menurut Cok Sawitri, Kepala Dukuh seperti seorang juru kunci, kayak mendiang Almarhum Mbah Marijan (di Gunung Merapi, Yogyakarta). Orang-orang yang tewas pada saat itu sengaja melakukan penyambutan, karena sebagai bentuk kesetiaan mereka sebagai kuncen atau juru kunci. Wah, Mz terharu. :’

Kesetiaan Kuncen terhadap Hyang Tohlangkir

hyang tohlangkir
Indah tapi menyeramkan | Sumber: Sindonews.net

Kepercayaan orang Bali hingga sekarang masih banget terasa. Walaupun jaman udah serba modern, tetap aja kepercaan orang Bali masih kental. Entah kamu percaya atau tidak soal kesetiaan juru kunci terhadap yang bersemayan di Gunung Agung, itu semua kembali pada diri sendiri.

Emang jaman dulu orang-orang lebih beranggapan, bahwa mereka memliki kewajiban untuk melindungi Pulau Bali dengan cara tidak mengabaikan tugas (ritual). Sekarang mungkin udah jarang yang mengetahui cerita pengabdian para orang terdahulu kita dan tetap menjaga kesetiaannya untuk menjadi kuncen atau juru kunci Gunung Agung sebagai persemayan Hyang Tohlangkir.

Baca juga:  Mebanten Saiban, Katanya Dosa Kamu Bisa Diampuni

Yang jelas seperti itu, menurut kepercayaan versi orang Bali pada jaman dahulu melihat sosok bencana Gunung Agung. Sekarang mungkin udah ga terlalu seperti itu fenomena yang kamu lihat. Doakan aja biar bencana letusan Gunung Agung cepat selesai dan Bali kembali aman.

 

Comments

comments