Belajar Budaya Bali dari Kasus Iklan BLACKPINK Shopee

786
views
BLACKPINK
Image: tabloidbintang.com

Tet totet teretet totettotet, aye aye~
Biar semangat bacanya, nonton video clipnya BLACKPINK dulu yuk.

Jujur, Mz tau girl grup ini karena lagu aye aye itu. Awalnya Cuma pake lucu-lucuan aja, lama kelamaan eh demen beneran. Nggak Cuma Mz aja yang demen sama girl group ini, temen-temen Mz—terutama yang cowok-cowok pada dengerin girl group ini. Kira-kira alasan mereka dan Mz suka sama girl group yang memulai debutnya di tahun 2016 ini apa ya? Tanpa dikasi taupun rasanya kamu udah tau deh haha

Setelah lagu yang udah kamu dengerin barusan, Mz nggak pernah rungu lagi sama BLACKPINK, sampai akhirnya salah satu personelnya, Jennie, mengeluarkan proyek solo-nya di youtube dengan tajuk SOLO. Bagus nggak Mz? BAGUS! Nih tonton.

Udah? Segitu aja?

Dari informasi yang Mz baca dari situs tirto.id, abis Konser bersama Shopee Road to 12.12 Birthday Sale pada 19 November 2018 lalu, Girl Group ini makin diomongin sama netizen-netizen Indonesia, buktinya kata kunci “BlackPink” selalu jadi trending di Google. Apalagi tahun 2019 mendatang mereka bakalan ngadain konser di Indonesia, beuh, pasti bakalan tambah rame nih.

Berita baiknya kan udah pada tau tuh, nah sekarang berita kurang baiknya nih. Dengan dipilihnya BLACKPINK sebagai brand ambasador Shopee Indonesia, dan dengan video iklan mereka di Shopee yang katanya tydac mendidik, ada orang yang buat petisi dengan judul “Hentikan Iklan Blackpink Shopee”.

Di dalam petisi tersebut, Maimon Herawati (yang buat petisi), mengajak para orang tua untuk menandatangani petisi tersebut soalnya iklan yang dibintangi sama Jennie dkk itu menurutnya menyalahi aturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Mengutip dari artikel yang dimuat di idntimes.com, lewat situs resminya, KPI merilis peringatan keras ke 11 stasiun TV yang nayangin iklan Shopee tersebut. Trans TV, RCTI, RTV, MNC TV, Indosiar, TV One, ANTV, Trans7, GTV, Net, dan SCTV pada kena semua. Menurut KPI, iklan Shopee ini berpotensi melanggar Pasal 9 Ayat (1) SPS KPI Tahun 2012 tentang kewajiban program siaran memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan yang dijunjung oleh keberagaman khalayak terkait budaya.

Menurut Mz rancu banget sih pasal ini, cuma ya Mz nggak mau bahas terkait pasalnya, tapi hal yang bisa kita pelajari dari kasus BLACKPINK dan Shopee ini. Mau ngasi pesan moral Mz? Enggak kok. Mz Cuma mau berbagi ilmu tentang Bahasa Bali yang contoh-contohnya nanti bisa kita ambil dari kasus tersebut.

Informasi dari wikipedia, Bahasa Bali adalah sebuah bahasa Austronesia dari cabang Sundik dan lebih spesifik dari anak cabang Bali-Sasak. Bahasa ini terutama dipertuturkan di pulau Bali, pulau Lombok bagian barat, dan sedikit di ujung timur pulau Jawa.

Di Bali sendiri Bahasa Bali memiliki tingkatan penggunaannya, misalnya ada yang disebut Bali Alus, Bali Madya dan Bali Kasar. Hal ini terjadi karena pengaruh bahasa Jawa menyebar ke Bali sejak zaman Majapahit, bahkan sampai zaman Mataram Islam, meskipun kerajaan Mataram Islam tidak pernah menaklukkan Bali.

Yang halus dipergunakan untuk bertutur formal misalnya dalam pertemuan di tingkat desa adat, meminang wanita, atau antara orang berkasta rendah dengan berkasta lebih tinggi. Yang madya dipergunakan di tingkat masyarakat menengah misalnya pejabat dengan bawahannya, sedangkan yang kasar dipergunakan bertutur oleh kaum sudra atau antara bangsawan dengan abdi dalemnya.

Sekarang penerapannya, sebelum melangkah ke Bahasa Bali yang Madya ataupun Alus, kita belajar Bahasa Bali Kasar aja dulu. Hmm, Mz kurang suka sih nyebutnya kasar, kita sebut Bahasa Bali santai aja gimana? Deal?

Mari kita ambil contoh dari kasus yang Mz bahas di atas. Kita ambil kata cantik misalnya. Cantik kalau diartikan ke dalam Bahasa Bali santai artinya jegeg. Contoh kalimatnya gini, “Mih, jegeg gati I Jenny ne”, artinya “Duh, cantik sekali si Jennie ini”.

Apa lagi? Oke, kita pakai kata “Dogen” atau “gen”. Dogen atau gen ini kalau diartikan ke bahasa Indonesia artinya “aja”. Contoh, “Ada-ada aja, kasus beginian diributin”, kalo di-translate, “Ade-ade dogen, masalah kekene uyutange”.

Dua aja cukup sih kayaknya ya. Kalau kamu penasaran sama bahasa Bali lainnya, bisa comment dan tanya langsung sama Mz, atau bisa langsung cek di BasaBali Wiki.

Comments

comments