Agung Yudha: ¼ Sutradara, ¼ Dosen, ½ Rocker

401
views

“¼ Sutradara, ¼ Dosen, ½ Rocker”. Demikian Agung Yudha mendeskripsikan dirinya. Hmm, siapakah sebenarnya sosok pria Capricorn berkacamata ini?

Agung Yudha merupakan salah satu sutradara asal Bali yang aktif berkarya. Sejak 2005, lebih dari 40 karya film pendek telah ia buat. Salah satu film dokumenternya menjadi film terbaik rekomendasi Juri di Eagle Awards Documentary Competition 2014, dan dokumenter lainnya ikut dalam kompilasi film pendek Bali di program Indonesia Raja 2016: Bali yang akan tayang di 2nd Minikino Film Week. Baru-baru ini, film horornya yang hanya berdurasi 8 detik berhasil menjadi Semi Finalis di festival film Halloween di United Kingdom, lho!

Yuk simak obrolan Masbrooo dengan pemilik nama lengkap Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha, S.S, M.Si, tentang kegiatan sehari-hari, film dan musik rock, rantau merantau, sampai perihal leak.

M: Halo, Kak Agung Yudha! Kesibukan akhir – akhir ini apa aja, nih?

AY: Halo Masbrooo, saat ini kegiatan saya seputar membuat film, mengajar di salah satu kampus dan bermain music rock di band yang bernama MR HIT. Hehehe

M: Kalau ketidaksibukan akhir – akhir ini apa, kak? :p

AY: Kalau ketidak sibukan sebenarnya cuma satu. Saya hanya perlu waktu tidur yang cukup :’)

M: Cerita dong, gimana awal Kak Agung Yudha berkecimpung di dunia film?

AY: Oke.. Jadi ceritanya dulu banget. Sekitar tahun 2005 saya berada di sebuah SMA yang mencoba untuk mengeksplorasi film. Kalau tidak salah itu perjalanan pertama SMA di Bali yang siswanya buat film. Masih pake handycam pinjaman dan diedit dengan computer seadanya yang sering banget nge-lag. Berangkat dari masa itu, ketertarikan saya terhadap film berangsur tumbuh. Walaupun tidak bisa meneruskan secara akademis pendidikan film karena di Bali belum ada dan biaya kuliah film di luar masih cukup tinggi, saya tetap iseng membuat film walaupun kuliahnya tidak nyambung. Iya, kalau tidak salah tahun 2005 itu awal mula saya membuat film hingga hari ini.

M: Berapa film yang sudah Kak Agung Yudha buat?

AY: Kalau film, tercatat sampai saat ini sepertinya sekitar 40an lebih film pendek.

M: Penghargaan yang berhasil diraih melalui karya Kak Agung Yudha apa aja, kak?

AY: Penghargaan yang berkesan itu ketika saya mendapat predikat film terbaik rekomendasi Juri di Eagle Awards Documentary Competition 2014 dan pemutaran film saya di Belanda, di Museum Du Pont pada tahun 2014. Ah, yang tentu tidak terlupakan ketika film saya masuk kompilasi Indonesia Raja 2015 dan Indonesia Raja 2016, program pertukaran film pendek di Indonesia yang digagas Minikino. Yang untuk tahun ini pencapaiannya di Finalis HelloFest 2016 untuk kategori film 8 detik dan Semi Finalis Di Red Ditch Halloween Film Festival 2016 in United Kingdom.

M: Film – film Kak Agung Yudha dapat inspirasi dari mana saja?

AY: Kebanyakan film yang saya buat itu idenya berasal dari kehidupan sekitar. Baik dari cerita yang berkembang di masyarakat maupun dari kehidupan sosial masyarakat itu sendiri. Karena saya percaya, ide di sekitar kita itu orisinal dan dahsyat maknanya.

M: Tema yang sering diangkat dalam film?

AY: Kalau tema itu tergantung dari jenis filmnya. Kalau fiksi, akhir – akhir ini saya sering membuat film horror dan mengangkat tema mitos dan yang terakhir tentang keadaan psikologis manusia. Kalau dokumenter, temanya lebih banyak pada kehidupan sosial dan interaksi masyarakat dengan alam sekitar.

img_3093

M: Setiap film pasti punya momen behind the scene yang menarik. Nah, produksi film yang mana yang paling menantang, butuh waktu lama, atau mungkin produksinya paling ribet?

AY: Ya, setiap film yang saya buat ada keseruannya sendiri – sendiri. Kalau yang paling memerlukan waktu lama dan ribet itu ketika saya memproduksi film dokumenter Pekak Kukuruyuk untuk Eagle Awards Documentary Competition 2014. Proses pra produksi yang cukup menyita tenaga dan produksi serta pasca produksi yang, kalau tidak salah, memerlukan waktu hinga 3 – 4 bulan. Jika pembuatan film yang menantang justru dari pembuatan film pendek horor yang berjudul Leak. Kenapa menantang? Karena pengambilan gambar dilakukan di tempat yang cukup.. begitulah… hehehe.. dengan kondisi di malam hari dan ceritanya agak – agak.. lengkap sudah.

M: Hiii, kita ganti topik aja deh, kak hehehe.. Film Kak Agung Yudha, Rantau di Bali yang ikut dalam program Indonesia Raja 2016 Bali mendokumentasikan kehidupan perantau di Bali. Bisa ceritakan kisah di balik produksi film? Tantangannya apa dan kenapa memilih tema tersebut?

AY: Tema yang diangkat Rantau di Bali sebenarnya simpel. Lebih kurangnya mirip seperti tamu yang datang ke rumah seseorang dan melihat keadaan rumah pemilik yang sebenarnya agak “tidak beres” dan memberitahukan itu kepada pemilik rumah. Rumah yang dimaksud adalah pulau Bali sendiri. Tamu itu adalah subjek film dokumenter yang berasal dari Ende, Flores yang sudah tinggal di Bali dari bertahun lamanya. Pemilik rumah adalah kita, ya, kita yang lahir dan hidup di Bali. Dalam perkembangannya, Bali perlahan berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Yang sebenarnya kita tidak nyaman tapi sulit mengungkapkannya. Kemacetan. Sampah. Penjualan lahan besar – besaran dan beberapa hal lain yang terlewat dari kita sebagai pemilik rumah karena terlalu terfokus akan kebesaran nama Bali di mata Indonesia dan dunia. Di sini, perantau itu memberitahukan apa yang sebenarnya membuat ia tertarik dan apa yang ia lihat telah berubah dari Bali. Sebuah pandangan sederhana yang dibungkus dalam dokumenter pendek kurang dari 5 menit. Karena menurut saya, jika kita sebagai orang yang lahir dan tinggal di Bali saling memberitahukan, kadang akan terjadi sentimen di tengahnya. Tapi mungkin lain jika orang dari luar Bali yang lama tinggal di Bali yang memberitahukannya.

M: Apa yang ingin Kak Agung Yudha sampaikan ke penonton 2nd MFW melalui Rantau di Bali?

AY: Saya ingin menyuarakan yang tidak terdengar. Hal – hal sekitar yang terlupakan dan kadang dianggap tidak penting. Ini bukan hanya masalah Bali tapi merupakan masalah semua daerah perkotaan. Rantau di Bali adalah suatu refleksi bagaimana sebenarnya kita di hidup dalam pandangan orang lain. Tidak harus kita mengikuti 100% mereka atas hidup kita namun juga sebaiknya kita tidak menampik pandangan dan saran mereka terhadap kita apalagi jika saran itu sebenarnya membuat kita lebih baik lagi. Pastilah kita akan malu jika diingatkan terus menerus. Akan lebih baik jika kita bisa mengingat dan meresponnya dengan cepat secara individu. Sekaligus agar kita mulai berfikir kritis akan lingkungan di sekitar kita. Setidaknya sebuah pemikiran, perubahan yang besar dimulai dari yang kecil, bisa mulai tumbuh setelah menonton Rantau di Bali.

f

M: Kak Agung Yudha kan sudah membuat puluhan film pendek, nih. Menurut kakak, apa sih kelebihan medium film pendek dibanding film panjang?

AY: Nah, kalau ini tergantung dari sudut pandang mana dulu. Si pembuat atau penikmat. Oke, kalau dari pembuat, justru sebenarnya lebih banyak tantangan. Lebih kepada bagaimana suatu pesan bisa dibungkus dengan medium film dalam jangka waktu yang pendek. Membuat film pendek tidak berarti film panjang yang dipendekkan. Tapi memang film yang durasinya pendek tapi harus memberi pesan yang sama kuatnya bahkan ketika membuat film panjang. Dari segi teknologi, teman – teman sekarang juga sangat dimudahkan dan format film pendek adalah format yang paling mudah untuk memulai berkarya dalam sebuah film. Dengan membuat film pendek, pembuat film juga akan dilatih untuk memberikan pesan secara singkat, padat dan jelas. Sudah tentu karena tuntutan durasi yang pendek.

Sedangkan dari sisi penikmat, pesan yang ada akan lebih cepat tersampaikan. Layaknya seperti karya sastra, film pendek ibarat cerpen dan novel ibarat film panjang. Menikmati film pendek tidak terlalu menyita banyak perhatian dan waktu. Walaupun dalam hal ini menonton film pendek dan panjang tidak bisa dibandingkan. Semua ada kelebihan dan kekurangan masing – masing.

M: Setuju! Nah, untuk saat ini, project yang sedang dikerjakan Kak Agung Yudha apa? Film pendek jugakah?

AY: Saat ini ada beberapa film pendek yang sedang digarap. Masih seputaran horror dan dokumenter (mohon doa restunya yaa…).

M: Terakhir nih, kak. Project mendatang yang ingin digarap?

AY: Yang akan digarap adalah pembuatan launching album online band saya, MR HIT. Lagi sedang ada ide untuk membuat format launching dengan basic video sekaligus sebagai arsip band di Bali. Kalau mau tahu lebih lanjut tentang karya film dan music saya, silakan dikunjungi youtube.com/mrhitband. Silakan disubscribe juga : )) Semoga berkenan dan mari kita terus berkreasi.

Comments

comments

Previous articleSaatnya Pemuda Denpasar Merubah Dunia Melalui Start UP Digital
Next article1000 Pemuda Petarung Angkasa Beradu Di Udara

MINIKINO FILM WEEK (MFW) adalah Festival Film Pendek Internasional di Bali- Indonesia yang dimulai tahun 2015 dan dirancang sebagai acara tahunan.

Sebuah Festival Film Pendek yang unik dan istimewa untuk membaca posisi dan realita karya film pendek Indonesia dan Dunia. Dirancang sebagai Festival Film Pendek Internasional yang masuk ke dalam keseharian masyarakat, dimana layar-layar film dikembangkan untuk memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mengalami suasana menonton film bersama. Penonton juga memiliki ruang untuk membicarakan dan menjadi kritis tentang apa yang baru saja mereka tonton.

MINIKINO FILM WEEK akan selalu terbuka untuk umum serta tidak membebankan biaya kepada penonton. Dengan memberikan panduan batasan usia, MFW menawarkan sebuah pengalaman menonton dan memberikan ruang tanggung jawab kepada masyarakat untuk memilih apa yang hendak ditonton dan yang tidak patut ditonton.

http://minikino.org/filmweek

SHARE